Selasa, 27 Oktober 2015


Pemasangan Banner yang Dilakukan Sebelum Masa Kampanye!
       Minggu, 25 oktober 2015 terlihat pemandangan berbeda terlihat disetiap sudut kota Surabaya. Kota yang awalnya indah, bersih dari atribut-atribut berkibar seperti banner dan spanduk kini mulai penuh dengan benda tersebut. Pemasangan banner dan spanduk ini biasanya dilakukan oleh pihak-pihak yang ingin ‘meng-iklan-kan’ produknya. Terlepas apakah produk tersebut berupa benda atau barang, jasa, acara/event dan masih banyak lagi yang lainnya. Biasanya pula, pemasangan banner dan spanduk ini juga hanya diletakkan di lokasi yang strategis seperti taman yang ada di tengah kota, lampu merah jalan utama, dan tempat-tempat yang biasanya banyak dikunjungi oleh masyarakat umum. Namun beberapa hari ini terlihat sedikit berbeda lantaran banner dan spanduk yang banyak di pasang di sepanjang jalan besar juga dipasang di rumah-rumah warga khususnya didalam kampung. Hal ini tentu menarik perhatian lantaran tidak setiap orang menginginkan pemasangan spanduk atau banner di rumahnya.
Terhitung mulai satu bulan yang lalu, kota surabaya sudah mulai dipenuhi banner-banner dan spanduk bergambarkan masing-masig calon wali kota beserta wakilnya. Hal ini tentu saja dianggap lumlah lantaran dalam waktu dekat kota Surabaya akan melaksanakan pemilihan kepala daerah. Pemilihan tersebut akan berlangsung pada tanggal 9 desember 2015 dan diadakan serentak di seluruh wilayah Surabaya. Berbagai macam atribut terkait pemilihan kepala daerah pun mulai banyak menghiasai setiap sudut kota pahlawan ini. Salah satu atribut yang paling melekat dengan pemilihan umum seperti ini yakni dengan banyaknya jumlah banner dan spanduk yang mulai terpasang di berbagai jalan. Banner dan spanduk tersebut tersedia dalam berbagai ukuran, bentuk, serta corak yang berbeda di masing-masing tempat. Biasanya pemasangan banner atau spanduk ini ditempatkan di pusat-pusat kota agar terlihat oleh masyarakat secara luas. Namun berbeda dengan hal tersebut, di kampung-kampung nyatanya juga telah dipasang gambar banner dan spanduk calon walikota beserta wakilnya.
           Setro-Surabaya adalah salah satu perkampungan padat penduduk yang bisa dikatakan paling ujung dari wilyah surabaya. Bagaimana tidak, daerah ini yang paling dekat dengan perbatasan pulau Madura. Setro berada di dekat jembatan suramadu yang bisa dikatakan masyarakat kurang peduli terhadap isu-isu politik. Namun berbeda dengan asumsi tersebut, nyatanya di daerah yang termasuk dalam kecamatan Takmbaksari-Surabaya Timur itu nyatanya lebih cepat melakukan “sosialisasi” terkait pemilihan umum seperti saat ini. Hal ini terlihat dari banyaknya banner dan spanduk yang dipasang di sepanjang jalan kampung Setro tersebut. Pemasangan banner dan spanduk tersebut nyatanya tidak hanya diletakkan di ujung gang seperti yang sewajarnya terjadi, namun juga di rumah-rumah penduduk. Salah satu rumah warga yang di pasangi banner calon walikota dan wakilnya adalah kediaman Indah.
         Indah merupakan salah satu warga Setro baru utara II no.118, kelurahan Dukuh Setro kecamatan Tambaksari-Surabaya. Dikediaman indah ini, terpasang banner salah satu calon walikota dan wakilnya dari partai yang berlambangkan hewan ber-moncong putih tersebut. Indah mengaku pemasangan banner ini terhitung sejak satu bulan yang lalu. Lebih lanjut ia pun menyampaikan wa pemasangan ini dilakukan sebelum masa kampanye calon walikota.
“banner ini dipasang kurang lebih satu bulan yang lalu mbak. Pas sebelum masa kampanye. Awalnya kan mau di pasang di lampu merah perempatan jalan besar sana, tapi gak oleh soale katae belum masa kampanya. Mangkane dipasang disini” ungkap indah.
                Dari dialog diatas bisa dilihat bahwa tim pemenangan dari salah satu calon melakukan pelanggaran dengan memasang banner yang dapat terindikasi sebagai salah satu bentuk kampanye. Seperti yang diketahui bahwa masa kampanye menurut Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 7 tahun 2015 Tentang Kampanye Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati, dan Wakil Bupati dan/ atau Walikota dan Wakil Walikota Bab V pasal 49  mengatakan bahwa “(1) Kampanye sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2) dan ayat (3), dilaksanakan 3 (tiga) hari setelah penetapan Pasangan Calon peserta Pemilihan sampai dengan dimulainya masa tenang.” Terhitung sejak dilakukan penelusuran ini pada tanggal 25 oktober, asumsinya satu bulan berarti tanggal 25 september. Padahal penetapan calon walikota beserta wakilnya menurut sistus resmi KPU yakni tanggal 24 september 2015. Jika dihitung masa kampanya adalah 3 hari setelah penetapan, maka pemasangan spanduk dirumah-rumah warga bisa dikatakan sebagai kampanye terselubung karena dilakukan sebelum masa kampanye. Hal ini dikarenakan pemasangan spanduk dilakukan per tanggal 25 september. Seharusnya jika menurut peraturan, kampanye dengan pemasangan atribut baru dilakukan pada tanggal 27 september 2015.

 Berbeda dengan banner dan spanduk yang dipasang di jalan-jalan besar yang dianggap berlebihan oleh masyarakat, indah memiliki pendapat lain. Ia mengatakan bahwa pemasangan banner dan spanduk baik di jalan-jalan besar ataupun yang terpasang dirumahnya memberikan informasi. Banner yang berukuran cukup besar tersebut dianggap dapat menginformasikan perihal calon walikota beserta wakilnya. Indah pun berpendapat “enggak merasa terganggu seh mbak. Malah dapat informasi. Oh, ini ta yang namanya bu risma. Oh ini ta wakilnya, gitu. Kita ini kan ibu rumah tangga sing kadang gak tau pemimpin kita rupanya kayak gimana. Makanya dengan adanya banner ini cukup menginformasikan, ya.. minimal tau wajahnya calon pemimpin Surabaya nanti. Gitu ae seh mbak”.
                Pemasangan banner baik di rumah warga ataupun di jalan-jalan ini tentu saja dilakukan oleh pihak-pihak yang menjadi tim sukses dari masing-masing calon. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh indah “kalo di kampung-kampung ini kayak e tim suksesnya mbak. Kalo petinggi kayak pak lurah ato pak camat-camat e itu kayaknya enggak deh. Soalnya kan kalo pemilihan gini ini biasanya udah ada tim suksesnya masing-masing. jadi tak rasa para petinggi desa kayak e gak ikut-ikut sih. Tapi emboh maneh lo mbak. Itu setauku loh. Hahahaha”.
                Banner dan spanduk yang dipasang di masing-masing jalan dan rumah-rumah yang ada di kampung ternyata memberikan dampak yang cukup signifikan. Tak bisa dipungkiri semenjak adanya pemasangan banner tersebut, euforia atau suanasa pemilihan kepala daerah kian terasa. Terbukti setelah banyaknya pemasangan banner di kampung setro ini, para warga khususnya ibu rumah tangga pun mulai ikut membicarakan topik yang bisa dikatakan bertemakan politik tersebut. hal ini nyatanya dibenarkan oleh indah. Ia mengaku bahwa semenjak pemasangan banner ini, ibu-ibu yang berada di satu gang dengannya mulai membicarakan hal tersebut. Ibu-ibu yang awalnya tidak terlalu peduli dengan berita terkait pemilihan kepala daerah pun kini mulai ikut membahasnya.
“terasa seh mbak euforianya. Ibu-ibu disini yang awalnya ngerumpi tentang artis jadi ikut ngerumpiin bu Risma. Ya gara-gara banyak banner disini ini mbak. Yang digosipin ya tentang orangnya, wajahnya. Biasa-lah ibu-ibu kan sembarang kalir diomong mbak. Hahaha” ungkap wanita berparas cantik tersebut.
 Berbeda dengan perihal pemasangan banner tersebut, ternyata hingga saat ini belum pernah dilakukan sosialisasi terkait pemilihan kepala daerah tersebut. Tidak hanya terjadi pada tahun ini, nyatanya di tahun-tahun sebelumnya juga tidak pernah dilakukan sosialisasi terkait pemilihan kepala daerah dan pemilihan umum lainnya. Hanya saja di kampung Setro ini sering dilakukan pemasangan banner, yang mungkin hal tersebut merupakan salah satu bentuk sosialisasi perihal pemilihan kepala daerah. Hal ini diungkapkan secara langsung pula oleh indah. Ia mengatakan “disini belum pernah ada sosialisasi gitu-gitu i mbak. Tapi kayak e ya memang gak pernah dilakukan sosialisasi kayak gitu itu. Padahal menurutku perlu loh diadakan sosialisasi gitu biar kita ini tau, gak cuma tau wajahnya kayak dari banner gini ini.”
Disisi lain dari pemasangan banner calon walikota beserta wakilnya tersebut, harapan besar juga ingin disampaikan oleh masyarakat secara umum terkait pemilihan kepala daerah di tahun ini. Harapan baik tentu tidak hanya diinginkan oleh para calon pemimpin beserta tim pemenangannya, namun juga oleh para warga tidak terkecuali oleh ibu rumah tangga. Dalam pemberitaan terkait pemilihan kepala daerah ini, tentu saja ibu rumah tangga merupakan sosok yang jarang ter-ekspose oleh media lantaran dianggap kurang memberikan kontribusi. Namun, ternyata di balik itu semua, ternyata para ibu rumah tangga juga berharap bahwa dengan adanya pemilihan kepala daerah ini mampu berjalan dengan lancar “yaaa,, semoga pilkada kali ini bisa berjalan dengan lancar gak kayak capres kemarin, rusuh prosoku. Semoga aman gak ada main-main uang juga. Semuanya murni dari masyarakat gitu. Amin” pungkasnya.


Referensi web:
·         http://kpu-surabayakota.go.id/ 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar