Pemasangan Banner yang
Dilakukan Sebelum Masa Kampanye!
Minggu, 25 oktober 2015 terlihat pemandangan berbeda terlihat disetiap sudut kota Surabaya. Kota yang
awalnya indah, bersih dari atribut-atribut berkibar seperti banner dan spanduk
kini mulai penuh dengan benda tersebut. Pemasangan banner dan spanduk ini
biasanya dilakukan oleh pihak-pihak yang ingin ‘meng-iklan-kan’ produknya.
Terlepas apakah produk tersebut berupa benda atau barang, jasa, acara/event dan
masih banyak lagi yang lainnya. Biasanya pula, pemasangan banner dan spanduk
ini juga hanya diletakkan di lokasi yang strategis seperti taman yang ada di
tengah kota, lampu merah jalan utama, dan tempat-tempat yang biasanya banyak dikunjungi
oleh masyarakat umum. Namun beberapa hari ini terlihat sedikit berbeda lantaran
banner dan spanduk yang banyak di pasang di sepanjang jalan besar juga dipasang
di rumah-rumah warga khususnya didalam kampung. Hal ini tentu menarik perhatian
lantaran tidak setiap orang menginginkan pemasangan spanduk atau banner di
rumahnya.
Terhitung mulai satu bulan yang lalu, kota surabaya sudah
mulai dipenuhi banner-banner dan spanduk bergambarkan masing-masig calon wali
kota beserta wakilnya. Hal ini tentu saja dianggap lumlah lantaran dalam waktu
dekat kota Surabaya akan melaksanakan pemilihan kepala daerah. Pemilihan
tersebut akan berlangsung pada tanggal 9 desember 2015 dan diadakan serentak di
seluruh wilayah Surabaya. Berbagai macam atribut terkait pemilihan kepala
daerah pun mulai banyak menghiasai setiap sudut kota pahlawan ini. Salah satu
atribut yang paling melekat dengan pemilihan umum seperti ini yakni dengan banyaknya
jumlah banner dan spanduk yang mulai terpasang di berbagai jalan. Banner dan
spanduk tersebut tersedia dalam berbagai ukuran, bentuk, serta corak yang
berbeda di masing-masing tempat. Biasanya pemasangan banner atau spanduk ini
ditempatkan di pusat-pusat kota agar terlihat oleh masyarakat secara luas.
Namun berbeda dengan hal tersebut, di kampung-kampung nyatanya juga telah
dipasang gambar banner dan spanduk calon walikota beserta wakilnya.
Setro-Surabaya adalah salah satu
perkampungan padat penduduk yang bisa dikatakan paling ujung dari wilyah
surabaya. Bagaimana tidak, daerah ini yang paling dekat dengan perbatasan pulau
Madura. Setro berada di dekat jembatan suramadu yang bisa dikatakan masyarakat
kurang peduli terhadap isu-isu politik. Namun berbeda dengan asumsi tersebut,
nyatanya di daerah yang termasuk dalam kecamatan Takmbaksari-Surabaya Timur itu
nyatanya lebih cepat melakukan “sosialisasi” terkait pemilihan umum seperti
saat ini. Hal ini terlihat dari banyaknya banner dan spanduk yang dipasang di
sepanjang jalan kampung Setro tersebut. Pemasangan banner dan spanduk tersebut
nyatanya tidak hanya diletakkan di ujung gang seperti yang sewajarnya terjadi,
namun juga di rumah-rumah penduduk. Salah satu rumah warga yang di pasangi
banner calon walikota dan wakilnya adalah kediaman Indah.
Indah merupakan salah satu warga
Setro baru utara II no.118, kelurahan Dukuh Setro kecamatan
Tambaksari-Surabaya. Dikediaman indah ini, terpasang banner salah satu calon
walikota dan wakilnya dari partai yang berlambangkan hewan ber-moncong putih
tersebut. Indah mengaku pemasangan banner ini terhitung sejak satu bulan yang
lalu. Lebih lanjut ia pun menyampaikan wa pemasangan ini dilakukan sebelum masa
kampanye calon walikota.
“banner ini dipasang
kurang lebih satu bulan yang lalu mbak. Pas sebelum masa kampanye. Awalnya kan
mau di pasang di lampu merah perempatan jalan besar sana, tapi gak oleh soale
katae belum masa kampanya. Mangkane dipasang disini” ungkap indah.
Dari
dialog diatas bisa dilihat bahwa tim pemenangan dari salah satu calon melakukan
pelanggaran dengan memasang banner yang dapat terindikasi sebagai salah satu
bentuk kampanye. Seperti yang diketahui bahwa masa kampanye menurut Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 7
tahun 2015 Tentang Kampanye Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati, dan
Wakil Bupati dan/ atau Walikota dan Wakil Walikota Bab V pasal 49 mengatakan
bahwa “(1) Kampanye sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2) dan ayat (3),
dilaksanakan 3 (tiga) hari setelah penetapan Pasangan Calon peserta Pemilihan
sampai dengan dimulainya masa tenang.” Terhitung sejak dilakukan penelusuran ini pada tanggal 25 oktober,
asumsinya satu bulan berarti tanggal 25 september. Padahal penetapan calon
walikota beserta wakilnya menurut sistus resmi KPU yakni tanggal 24 september
2015. Jika dihitung masa kampanya adalah 3 hari setelah penetapan, maka
pemasangan spanduk dirumah-rumah warga bisa dikatakan sebagai kampanye
terselubung karena dilakukan sebelum masa kampanye. Hal ini dikarenakan
pemasangan spanduk dilakukan per tanggal 25 september. Seharusnya jika menurut
peraturan, kampanye dengan pemasangan atribut baru dilakukan pada tanggal 27
september 2015.
Berbeda dengan
banner dan spanduk yang dipasang di jalan-jalan besar yang dianggap berlebihan
oleh masyarakat, indah memiliki pendapat lain. Ia mengatakan bahwa pemasangan
banner dan spanduk baik di jalan-jalan besar ataupun yang terpasang dirumahnya
memberikan informasi. Banner yang berukuran cukup besar tersebut dianggap dapat
menginformasikan perihal calon walikota beserta wakilnya. Indah pun berpendapat
“enggak merasa terganggu seh mbak. Malah
dapat informasi. Oh, ini ta yang namanya bu risma. Oh ini ta wakilnya, gitu.
Kita ini kan ibu rumah tangga sing kadang gak tau pemimpin kita rupanya kayak
gimana. Makanya dengan adanya banner ini cukup menginformasikan, ya.. minimal tau
wajahnya calon pemimpin Surabaya nanti. Gitu ae seh mbak”.
Pemasangan banner baik di rumah
warga ataupun di jalan-jalan ini tentu saja dilakukan oleh pihak-pihak yang
menjadi tim sukses dari masing-masing calon. Hal ini seperti yang diungkapkan
oleh indah “kalo di kampung-kampung ini
kayak e tim suksesnya mbak. Kalo petinggi kayak pak lurah ato pak camat-camat e
itu kayaknya enggak deh. Soalnya kan kalo pemilihan gini ini biasanya udah ada
tim suksesnya masing-masing. jadi tak rasa para petinggi desa kayak e gak
ikut-ikut sih. Tapi emboh maneh lo mbak. Itu setauku loh. Hahahaha”.
Banner dan spanduk yang dipasang
di masing-masing jalan dan rumah-rumah yang ada di kampung ternyata memberikan
dampak yang cukup signifikan. Tak bisa dipungkiri semenjak adanya pemasangan
banner tersebut, euforia atau suanasa
pemilihan kepala daerah kian terasa. Terbukti setelah banyaknya pemasangan
banner di kampung setro ini, para warga khususnya ibu rumah tangga pun mulai
ikut membicarakan topik yang bisa dikatakan bertemakan politik tersebut. hal
ini nyatanya dibenarkan oleh indah. Ia mengaku bahwa semenjak pemasangan banner
ini, ibu-ibu yang berada di satu gang dengannya mulai membicarakan hal
tersebut. Ibu-ibu yang awalnya tidak terlalu peduli dengan berita terkait
pemilihan kepala daerah pun kini mulai ikut membahasnya.
“terasa seh mbak
euforianya. Ibu-ibu disini yang awalnya ngerumpi tentang artis jadi ikut
ngerumpiin bu Risma. Ya gara-gara banyak banner disini ini mbak. Yang digosipin
ya tentang orangnya, wajahnya. Biasa-lah ibu-ibu kan sembarang kalir diomong
mbak. Hahaha” ungkap wanita berparas cantik tersebut.
Berbeda dengan
perihal pemasangan banner tersebut, ternyata hingga saat ini belum pernah
dilakukan sosialisasi terkait pemilihan kepala daerah tersebut. Tidak hanya
terjadi pada tahun ini, nyatanya di tahun-tahun sebelumnya juga tidak pernah
dilakukan sosialisasi terkait pemilihan kepala daerah dan pemilihan umum
lainnya. Hanya saja di kampung Setro ini sering dilakukan pemasangan banner, yang
mungkin hal tersebut merupakan salah satu bentuk sosialisasi perihal pemilihan
kepala daerah. Hal ini diungkapkan secara langsung pula oleh indah. Ia
mengatakan “disini belum pernah ada
sosialisasi gitu-gitu i mbak. Tapi kayak e ya memang gak pernah dilakukan
sosialisasi kayak gitu itu. Padahal menurutku perlu loh diadakan sosialisasi
gitu biar kita ini tau, gak cuma tau wajahnya kayak dari banner gini ini.”
Disisi lain dari
pemasangan banner calon walikota beserta wakilnya tersebut, harapan besar juga ingin
disampaikan oleh masyarakat secara umum terkait pemilihan kepala daerah di
tahun ini. Harapan baik tentu tidak hanya diinginkan oleh para calon pemimpin
beserta tim pemenangannya, namun juga oleh para warga tidak terkecuali oleh ibu
rumah tangga. Dalam pemberitaan terkait pemilihan kepala daerah ini, tentu saja
ibu rumah tangga merupakan sosok yang jarang ter-ekspose oleh media lantaran dianggap kurang memberikan kontribusi.
Namun, ternyata di balik itu semua, ternyata para ibu rumah tangga juga berharap
bahwa dengan adanya pemilihan kepala daerah ini mampu berjalan dengan lancar “yaaa,, semoga pilkada kali ini bisa berjalan
dengan lancar gak kayak capres kemarin, rusuh prosoku. Semoga aman gak ada
main-main uang juga. Semuanya murni dari masyarakat gitu. Amin” pungkasnya.
Referensi web:




Tidak ada komentar:
Posting Komentar